Breaking News
recent

AS Masukkan JAD dalam Daftar Organisasi Teroris Global



JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat mengategorikan Jamaah Ansharut Daulah yang disebut AS sebagai kelompok paling pro ISIS di Indonesia, sebagai organisasi teroris.

Dengan mengategorikan ini, AS menerapkan sanksi kepada kelompok berkekuatan ratusan orang itu, termasuk membekukan asset-assetnya di AS.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan dalam peryataan tertulisnya bahwa Jamaah Ansharut Daulah (JAD) "secara khusus dirancang sebagai organisasi teroris global".

Dengan demikian AS secara efektif memblokir pendanaan kelompok ini dan melarang warga Amerika terlibat dalam kelompok ini.

Menurut AS, JAD adalah organisasi payung yang terdiri dari ratusan simpatisan ISIS yang berada di seluruh penjuru Indonesia.

Pejabat-pejabat AS menyatakan, para militan dari JAD melakukan serangan penembakan dan bunuh diri di Jakarta pada Januari 2016 lalu, yang menewaskan empat warga sipil.

Menurut pejabat-pejabat AS, serangan itu secara pendanaan didukung oleh seorang militan ISIS di Suriah.

Dalam pernyataannya, Deplu AS menyebutkan, konsekuensi dari penunjukan sebagai kelompok teroris ini termasuk larangan bagi warga negara AS melakukan bisnis dengan JAD, serta membekukan setiap properti terkait JAD di Amerika.

Deplu AS juga mengumumkan sanksi-sanksi terhadap empat militan, sebagai upaya memutus akses ISIS ke sistem keuangan internasional.

Di antara keempat militan tersebut adalah dua warga negara Indonesia, yakni Bahrumsyah yang diyakini masih bergabung dengan ISIS di Suriah. WNI lainnya adalah Aman Abdurrahman yang kini dipenjara di LP Nusakambangan, yang dianggap sebagai pemimpin de fakto semua pendukung ISIS di Indonesia.

Dua militan lainnya adalah dua warga Australia, yakni Neil Christopher Prakash, perekrut paling senior warga Australia untuk ISIS dan Khaled Sharrouf, yang dalam foto-foto tampak memegang "potongan kepala" orang-orang yang telah dieksekusi.

KOMENTAR
Powered by Blogger.