Breaking News
recent

Raja Saudi Dilaporkan Serahkan Takhta ke Putranya Pekan Depan

Raja Saudi Dilaporkan Serahkan Takhta ke Putranya Pekan Depan
Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud dari Arab Saudi. Foto/SPA/REUTERS

LONDON - Sebuah laporan yang diterbitkan media Inggris mengklaim bahwa Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz al-Saud, berencana untuk menyerahkan takhta dan kekuasaan kepada putranya, Mohammed bin Salman, minggu depan. Namun, Kerajaan Saudi belum mengonfirmasi laporan ini.

Laporan penyerahan takhta Saudi ini berpotensi memicu guncangan besar di Riyadh karena keluarga kerajaan telah berusaha untuk mengkonsolidasikan kekuasaan baik di dalam kerajaan maupun di kawasan dalam beberapa minggu terakhir.

Salah satun langkah konsolidasi itu adalah penangkapan massal para pangeran, pejabat dan pengusaha atas tuduhan korupsi. Pengunduran diri Perdana Menteri Libanon Saad al-Hariri yang diumumkan dari Riyadh juga diduga sebagai unjuk pengaruh Saudi terhadap Iran sebagai rivalnya.

Laporan diterbitkan Daily Mail dengan mengutip seorang sumber yang digambarkan sebagai “orang dekat keluarga kerajaan”. Tapi, Riyadh belum merespons laporan ini.

Raja Salman, 81, menurut laporan itu, akan menyerahkan kendali kerajaan kepada putranya, Mohammed bin Salman atau MBS, yang saat ini menjabat Putra Mahkota dan Menteri Pertahanan Saudi. Salman akan mempertahankan peran tituler sebagai tokoh utama, tapi tidak akan memimpin negara itu.

”Rencana MBS adalah memulai menyulut api di Libanon, tapi dia berharap untuk mengandalkan dukungan militer Israel. Dia telah menjanjikan miliaran dolar AS untuk bantuan keuangan langsung jika mereka setuju,” kata sumber yang dikutip media Inggris tersebut, yang dilansir semalam (17/11/2017).

New York Times, media yang berbasis di Amerika Serikat (AS) juga menerbitkan laporan serupa yang dilengkapi analisis.

Raja Salman, yang beberapa orang percaya mungkin menderita demensia, naik takhta pada tahun 2015 setelah kematian saudaranya, Raja Abdullah.

Penunjukan MBS sebagai Putra Mahkota Saudi pada bulan Juni lalu telah mengejutkan banyak pihak. MBS menggantikan Mohammed bin Nayef—kepononakan Raja Salman—dengan alasan yang sampai saat ini belum jelas. Tapi, sumber-sumber di kerajaan menyatakan, Mohammed bin Nayef diganti karena kecanduan obat-obatan.

Pangeran MBS telah mengumpulkan reputasi sebagai penentu, sekaligus impulsif. Pada usia 32 tahun dan dengan sedikit pengalaman di pemerintahan, dia telah bangkit untuk berkuasa hanya dalam waktu tiga tahun untuk mengawasi semua aspek utama, yakni politik, keamanan dan ekonomi di Arab Saudi.

Sebagai Menteri Pertahanan, dia bertanggung jawab atas perang koalisi Arab yang dipimpin oleh Saudi di Yaman. Perang itu untuk memerangi pemberontak Houthi yang didukung Iran. Langkah MBS juga kerap dipandang berada di jalur keras dalam melawan Teheran.

Putra Raja Salman ini mendapat dukungan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan menantunya, penasihat senior Gedung Puith; Jared Kushner.

Menurut laporan New York Times, para analis AS percaya bahwa langkah MBS dalam penangkapan massal melalui operasi anti-korupsi merupakan upaya untuk menyingkirkan saingannya menjelang pengunduran diri ayahnya.

Sumber: Daily Mail/New York Times
KOMENTAR
Powered by Blogger.